ESDM Pastikan Pasokan Bijih Nikel Aman Meski Kuota Weda Bay Nickel Habis
By Admin
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
nusakini.com, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan pasokan bijih nikel untuk kebutuhan smelter nasional tetap aman meski kuota produksi PT Weda Bay Nickel (WBN) tahun 2026 telah habis. Pemerintah menyebut pelaku industri masih memiliki opsi memperoleh bahan baku dari perusahaan lain di dalam negeri maupun melalui impor.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno memastikan tidak ada gangguan serius terhadap ketersediaan bijih nikel bagi smelter yang beroperasi di Indonesia.
Menurut Tri, perusahaan pengolahan dan pemurnian nikel dapat memperoleh pasokan dari sejumlah perusahaan tambang lain yang masih memiliki kuota produksi. Selain itu, impor dari Filipina juga tetap menjadi alternatif apabila diperlukan.
"Untuk saprolit tidak ada isu. Pasokan masih tersedia," ujar Tri saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Senin (22/6/2026).
Tri juga membantah anggapan bahwa perubahan formula Harga Patokan Mineral (HPM) membuat harga bijih nikel domestik menjadi lebih mahal dibandingkan bijih impor.
Ia menjelaskan penyesuaian HPM justru dilakukan untuk menciptakan mekanisme perdagangan yang lebih adil sekaligus memastikan negara memperoleh penerimaan yang sesuai dari aktivitas pertambangan.
Menurutnya, selama ini harga bijih impor tidak selalu lebih murah dibandingkan pasokan dalam negeri. Karena itu, pemerintah menilai kebijakan HPM tetap diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan industri dan penerimaan negara.
Pernyataan tersebut muncul setelah muncul kekhawatiran mengenai potensi kekurangan bahan baku di kawasan industri Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) akibat terbatasnya kuota produksi WBN pada tahun ini.
Meski demikian, ESDM menilai kondisi tersebut masih dapat diantisipasi melalui mekanisme pasar dan distribusi pasokan dari berbagai wilayah penghasil nikel di Indonesia.
Pemerintah juga terus memantau kebutuhan bahan baku smelter nasional agar target hilirisasi mineral tetap berjalan sesuai rencana.
Dengan kapasitas produksi smelter yang terus bertambah, kebutuhan bijih nikel nasional diperkirakan meningkat sepanjang 2026. Namun ESDM optimistis ketersediaan pasokan masih dapat dipenuhi melalui kombinasi produksi domestik dan impor yang terukur. (*)